Kamis, 21 April 2011

Ketelitian dan Ketepatan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Laboraturium kimia merupakan tempat untuk melakukan kegiatan praktikum atau pun kegiatan penelitian yang berhubungan dengan bahan-bahan kimia. Di dalam laboraturium banyak sekali terdapat alat-alat praktikum yang memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda-beda, dimana alat-alat tersebut berasal dari berbagai bahan yang berbeda antara alat gelas, plastic, karet, dan besi. Oleh karena itu diperlukan kehati-hatian dalam penggunaan dan pemakaiannya. Contoh alat yang sering digunakan dalam laboraturium antara lain: Erlemeyer, gelas ukur, beker gelas, thermometer, tabung reaksi, labu ukur, pipet gondok. Spatula besi, spatula kaca, pipet tetes, dan masih banyak lagi alat-alat yang lain.
Kesalahan dalam menggunakan alat dan bahan dapat menimbulkan hasil yang didapat tidak akurat dalam hal ilmu statistika kesalahan seperti ini digolongkan dalam galat pasti. Oleh karena itu, pemahaman fngsi dan cara kerja peralatan serta bahan harus mutlak dikuasai oleh praktikan sebelum melakukan praktikum dilaboraturium kimia.
Bukan hal yang mustahil bila terjadi kecelakaan dalam laboraturium karena kesalahan dalam pemakaian atau penggunaan alat-alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan suatu praktikum yang berhubungan dengan bahan kimia yang berbahaya.
Ketepatan pembacaan skala pada alat sangat mempengaruhi hasil laboraturium, karena pada alat-alat tertentu belum memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Hal ini tergantung pada diameter alat yang digunakan, sebab semakin kecil diameter alat maka semakin besar tingkat ketelitian dan resiko kesalahan penggunaan alat akan semakin kecil.
Analisis yang baik biasanya peduli kerapian. Praktikan dengan meja praktikum yang teratur, kecil kemungkinan melakukan kesalahan dalam mencampur sample, salah menambahkan reagensia, menumpahkan larutan dan memecahkan peralatan kaca. Kerapian dalam laboratorium tentu saja harus berlanjut dari meja praktikum sampai kerak tempat bahan-bahan untuk seluruh kelas. Kerapian hendaknya mencakup pemeliharaan perabotan laboraturiumyang permanent seperti oven, lempeng panas, lemari asam, bak dan meja-meja praktikum.
Ketepatan pembacaan skala pada alat sangat mempengaruhi hasil laboratorium, karena pada alat-alat tertentu belum memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Hal ini tergantung pada diameter alat yang digunakan. Sebab semakin kecil diameter alat maka semakin besar tingkat ketelitian dan resiko keslahan penggunaan alat akan semakin kecil. Pemilihan jenis alat yang akan digunakan dalam penelitian disesuaikan dengan tujuan penelitian agar penelitian berjalan lancar.
1.2 Rumusan masalah
  • Berapakah standar deviasi dalam percobaan titrasi?
  • Berapakah konsentrasi M larutan CuSO4 pada proses pengenceran?
  • Bagaimanakah perbandingan ketelitian antara timbangan semi kasar dengan timbangan analitik?
  • Berapakah standar deviasi pada percobaan penggunaan mikropipet?
  • Bagaimanakah proses pengenceran pada percobaan ini?
 1.3 Tujuan Percobaan
  • Mengetahui standar deviasi dalam percobaan titrasi.
  • Mengetahui konsentrasi M larutan CuSO4 pada proses pengenceran.
  • Mengetahui perbandingan ketelitian timbangan semi kasar dengan timbangan analitik.
  • Mengetahui standar deviasi pada penggunaan mikropipet.
  • Mengetahui proses pengenceran pada praktikum.


BAb II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat, prinsip kerja atau proses berlangsungnya ketika alat digunakan. Beberapa kegunaan dapat dikenali berdasarkan namanya. Penamaan alat-alat yang berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer, spektometer dan lain-lain
(Taiyeb, 2006).
Karena sebagian besar alat laboraturium merupakan alat yang dibuat dari
gelas, maka ketelitian dan kecermatan dalam penggunaan alat memegang peranan yang penting selama kegiatan praktikum sebab apabila terjadi kesalah maka praktikan akan berakibatkan fatal. Akibat yang ditimbulkan juga akan berbahaya, misalnya alat yang kita gunakan pecah atau dapat juga bahan yang kita gunakan mengganggu kesehatan.
Selain hal tersebut terdapat factoryang tak kala pentingnya yaitu masalah kebersihan alat-alat yang digunakan dan adanya ketelitian praktikan dalam melakukan pengukuran dan perhitungan yang dilakuakan. Ini dikarenakan apabila terdapat alat yang digunakan untuk praktikum tidak steril dan masih terdapat sisa-sisa bahan yang telah dipakai dapat menyebabkan kegagalan dalam praktikum yang dilakukan karena dapat menimbulkan reaksi lain yang tidak diharapkan.
(Ibnu, 1976)
Karena diketahui bahwa setiap praktikum harus mengetahui alat-alat yang digunakan disetiap praktikum, maka didalam praktikum pengenalan alat ini setiap praktikan diwajibkan mengetahui dan memahami cara kerja dan fungsi dari setiap alat-alat yang ada di laboratorium. Selain untuk menghindari kecelakaan dan bahaya dengan memahami cara kerja dan fungsi dari masing-masing alat, praktikan dapat melaksanakan praktikum dengan sempurna, kebersihan alat yang digunakan dan ketelitian praktikan dalam perhitungan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam suatu praktikum, dengan ketelitian dan ketetapan penggunaan alat maka kesalahan dalam praktikum dapat diminalisir. (H.F.Walton, 1998)
 Titrasi merupakan prosedur yang bertujuan untuk menentukan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang telah diketahui agar tepat habis bereaksi dengan sejumlah larutan yang ingin dianalisis atau diketahui kadarnya.Larutan standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai rekasi selesai. selesainya reaksi diketahui dengan adanya perubahan warna. Indikator untuk titrasi asam basa memegang peranan penting disebabkan indikator ini akan menunjukkan perubahan titik akhir titrasi. secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik teoritis atau titik ekuivalen. pada prakteknya selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi. titrasi mempunyai persamaan sebagai berikut V1N1 = V2N2 (Khopkar, 1984).
Proses pengenceran melibatkan percampuran suatu larutan pekat dengan pelarut tambahan untuk memberikan volume akhir yang lebih besar, selama proses pengenceran banyaknya mol yang ada di dalam larutan tetap dan hanya volumenya yang bertambah (Brady, 1994).
Mikropipet digunakan untuk memindahkan secara akurat suatu larutan dalam volume kecil. dalam menggunakan mikropipet yang perlu diperhatikan adalah volume larutan yang akan dipindahkan. ada beberapa jenis mikropipet berdasarkan volume jenisnya mikropipet yang sering digunakan memiliki besaran 10-100 mikroliter dan 100-1000 mikroliter. pada penggunannya biasanya dilakukan kombinasi pemakaian kedua jenis ini. agar penggunaan mikropipet optimal ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu konsisten speed dan kekencangan saat menekan dan melepaskan tombolnya, konsisten tekanan pada flunger yang pertama, menghindari semua gelembung udara (Bresnick, 2002)
Menimbang adalah meletakkan suatu benda pada alat timbangan agar diketahui nilainya pada benda tersebut. timbangan semi kasar adalah dalam cara penimbangannya dilakukan secara manual. timbangan analitik dalam skalanya disetel secara otomstis dengan menekan tombol power (Khoirul, 2000). 

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan
              
               Alat yang digunakan dalam percobaan ini  antara lain adalah erlenmeyer, buret, pipetvtetes, pipet ukur, pipet gondok, labu ukur, timbangan semi kasar, timbangan analitik, pipet eppendorf, dan gelas arloji.
               Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan HCL, Larutan NaOH, Indikator PP, Aquades, Larutan CuSO4, dan 3 buah pen untuk bahan yang ditimbang dalam percobaan penimbangan. 

3.2 Cara Kerja
                 Pada percobaan titrasi, diambil 10 ml larutan HCL ke dalam erlenmeyer dan dimasukkan indikator PP sebanyak 2 tetes. kemudian buret dicuci dengan larutan NaOH. kemudian buret diisi dengan larutan NaOH sampai menunjukkan skala 0. setelah itu buret dipasangkan pada statis. dibuka kran buret dan diteteskan pelan-pelan titran pada erlenmeyer tadi hingga larutan berubah warna menjadi merah muda. kemudian ditutup kembali kran buret agar diketahui volume normalitasnya. dicatat hasil percobaan dan diulangi sampai 3 kali.
                 Pada percobaan pengenceran I CuSO4 adalah diambil larutan CuSO4 1M sebanyak 2 ml dengan digunakan pipet ukur 5ml. kemudian larutan CuSO4 tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml ditambahkan aquades sampai batas tanda dan digojok. pada pengenceran 2 CUSO4 diambil 10 ml larutan CuSO4 yang tadi sudah diencerkan kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 250 ml ditambahkan aquades sampai batas. dihitung masing-masibng konsentrasi larutan tersebut.
                  Pada percobaan penimbangan , yang pertama yaitu ditimbang tiga bahan yang tersedia dengan digunakan timbangan semi kasar. dicatat erat bahan masing-masing, penimbangan yang kedua ditimbang 3 bahan yang tersedia dengan menggunakan timbangan analitik.
                  Kemudian percobaan terakhir yaitu pemakaian pipet eppendorf atau mikropipet digunakan pipet tip yang dipasang dibagian ujung dan sekali pakai harus dibuang atau dikalibrasi.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN  


4.1 Hasil

Tirasi
V1 = 12,2     
v2 = 12,2
v3 = 12,3
$v = 0.07

Pengenceran CuSO4
Pengencerabn I 
M = 0,02
Pengenceran II
M = 0,0008

Penimbangan
Penimbangan I (semi kasar)
x = 6,6+0,1
Penimbangan II (Analitik)
x = 6,601+0,002

Pemakaian pipet eppendorf
$x = 0.09 gram


4.2 Pembahasan
Peralatan dan bahan adalah faktor utama yang ikut menentukan keberhasilan suatu praktikum atau penelitian, keakuratan peralatan sangat berpengaruh terhadap hasil yang diproleh pada peralatan-peralatan yang terdapat pada hasil yang dibuat dari berbagai jenis bahan . ada yang terbuat dari kaca (gelas) , dari plastik dan dari logam. Masing-masing alat dibuat dari bahan yang sesuai dengan fungsinya seperti Labu Erlenmeyer yang digunakan untuk wadah larutan asam pekat yang mudah bereaksi ini terbuat dari gelas. Gelas adalah bahan yang inert (lembam atau tidak mudah bereaksi), dan lain halnya dengan krus porselen yang biaasnya digunakan untuk proses pengabuan, suhu yang tinggi dapat digunakan untuk membakar bahan akan tetapi tidak dapat membakar porselen . hal ini disebabkan karena porselen terbuat dari tanah liat yang dibakar pada suhu tinggi.
Tingkat ketelitian didalam praktikum juga harus diperhatikan seperti dalam menggunakan buret ada beberapa hal yang perlu diperhatikan misalnya pada saat akan memasukkan larutan ke dalam buret didalam pengisian kita harus menurunkan buret itu terlebih dahulu dari penyangganya dan batas yang akan kita isi harus sejajar dengan mata praktikkan, batas buret yang kita perlukan yaitu buret harus tegak lurus, dalam pengosongan buret harus tidak terlalu cepat, dan pembacaan minicus harus tepat. Selain itu ada yang dinamakan pipet pemindah volume yang digunakan untuk memindahkan suatu volume tertentu dari zat cair dengan ketelitian lebih besar dibandingkan dengan gelas ukur. Ada dua macam pipet pemindah yaitu pipet ukur dan pipet gonndok dimana pipet gondok mempunyai ketelitian yang lebih besar dari pada pipet ukur. 
Titrasi merupakan suatu prosedur yang bertujuan untuk menentukan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang telah diketahui agar tepat bereaksi dengan sejumlah larutan. dalam percobaan titrasi ini digunakan larutan HCL sebnyak 10ml yang berfungsi sebagai titran dan Larutan NaOH sebagai titer.
Pengenceran merupakan percampuran suatu larutan pekat dengan pelarut tambahan untuk memberikan volume akhir yang lebih besar. larutaan pekat ialah larutan yang mempunyai konsentrasi tinggi dalam hal ini dalah larutan CuSO4  1M.
Menimbang adalah meletakkan suatu benda pada alat menimbang agar diketahui tepat nilai pada benda tersebut. pada penimbangan semi kasar benda diletakkan pada timbangan, kemudian diatur nilai skala dengan menggeser penentu skala yang ada pada timbangan. Sedangkan pada penimbangan analitik skala dapat diukur secara otomatis. oleh karena itu timbangan analitik memiliki ketelitian yang lebih besar dibandingkan timbangan semi kasar.
Pada penggunaan pipet eppendorf  diambil larutan dengan menggunakan pipet tip yang dalam sekali pakai harus diganti atau dikalibrasi. pipet eppendorf digunakan dalam pengukuran mikroliter yang banyak dilakukan pada percobaan tingkat molekul.



BAB V
KESIMPULAN


Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
  • Standar deviasi dalam percobaan titrasi adalah 0,07
  • Pengenceran I, M = 0,02 dan dalam pengenceran II diperoleh nilai konsentrasi, M = 0,0008
  • Timbangan analitik mempunyai ketelitian yang lebih baik dibandingkan dengan timbangan semi kasar karena pada timbangan analitik skalanya disetel secara otomatis dengan menekan tombol sedangkan timbangan semi kasar skalanya diatur secara manual.
  • standar deviasi pada penggunaan pipet eppendorf adalah $x = 0.09
  • Proses pengenceran pada praktikum ini adalah mencampurkan larutan CuSO4 1M dengan aquades.


DAFTAR PUSTAKA

Brady, E James. 1994. Kimia Universitas. Jakarta : Erlangga
Bresnick, stephen. 2002. Kimia Umum. Jakarta : Hipokrtes
Khoirul, Umam. 2000. Ketetapan Kimia. Jakarta : Hipokrtes
Khopkar. 1984. Konsep Dasar Kimia Analaitik. Jakarta : UIP
Taiyeb, M. 2006. Pengenalan Alat Laboratorium. Makassar :Jurusan Biologi FMIPA UNM


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar